MENU

Islamic Widget

Senin, 30 Agustus 2010

Dikubur 26 Tahun Jasad KH. Abdullah Masih Utuh


PDF Cetak E-mail

Tiga bak berisi air dan potongan kayu ukuran 70 cm x 30 cm telah disiapkan anak-anak almarhum KH. Abdullah. Saat itu, Minggu 2 Agustus 2009, makam Kiai Abdullah akan
dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper,
Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.

"Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta
Pusat. Persiapannya memang seperti itu," kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.

Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.

Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget. Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam. "Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu.
Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih" jelas Mukhtar.

Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.

Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.

"Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul," ujar Mukhtar.

Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.

Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat

ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.

Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.

Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.

Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.

Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.

Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya , tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh diperjualbelikan.

Pihak keluarga hanya meminta Pemkot membangun kembali musala di sekitar wilayah Juru
Mudi, supaya warga setempat mudah kalau ingin beribadah. "Sepeser pun kami tidak menerima uang penggantian. Biaya pemindahan jenazah saja kami tanggung sendiri, sekalipun Pemkot sudah menawarkan" jelas Mukhtar, anak sulung Kiai Abdullah.

Kini jenazah Kiai Abdullah dimakamkan di depan pekarangan rumah Achmad Fathi, yang berjarak hanya 15 meter dari lokasi pemakaman sebelumnya. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudullah bin Mukmin, makam istri keduanya Maswani, serta makam putra keduanya yang bernama M Syurur.

Rencananya, areal makam itu akan diperluas lantaran setiap hari banyak orang yang datang untuk berziarah, terutama setelah tersiar kabar jasad Kiai Abdullah masih utuh meski dikubur selama 26 tahun. Bahkan untuk memudahkan para peziarah, keluarga bermaksud membangun musala di samping areal makam.(Ainul Wafa Elhasya / detik)

Perjalanan Panjang Menuju Islam Seorang Muslim Amerika


PDF Cetak E-mail

Perjalanan menuju Islam adalah perjalanan yang cukup panjang bagi Fred, seorang Muslim Amerika. Ia pernah mempelajari berbagai keyakinan, mulai dari Yudaisme, Kristen sampai akhirnya ia menjadi seorang atheis, karena agama-agama yang ia pelajari tidak memuaskan hatinya.
Agama-agama itu tidak menjawab keinginannya sebagai agama yang ia anggap cukup masuk akal, agama yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan, agama yang mengajarkan kepekaan. Agama-agama yang ia pelajari, Yudaisme dan Kristen saling tuding bahwa agama lain di luar agama itu, salah.

Suatu hari, ketika Fred berkunjung ke perpustakaan umum di Columbus, Ohio secara tak sengaja ia melihat sebuah buku bertuliskan 'The Holy Qur'an'. "Saya tidak tahu menahu tentang Qur'an, saya bahkan cuma tahu sedikit tentang Islam-saya tahu pasti, Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan dan terorisme," aku Fred pada situs WhyIslam.

Tapi Fred tetap membaca-baca 'buku' itu dan ia merasa bahasa dalam 'buku' tersebut ketinggalan zaman dan sulit dipahami. "Butuh belajar untuk memahaminya. Oleh sebab itu saya membeli al-Qu'an di sebuah toko buku dan mulai mempelajari 'buku' yang aneh itu," ujar Fred.

Membaca al-Quran, membuat Fred terkjut sekaligus makin tertarik untuk untuk mempelajarinya. Terkejut, karena di dalam 'buku' tersebut terdapat 114 surat yang menurut Fred tidak ada yang baru. Surat-surat itu, ujar Fred, merupakan pernyataan kembali dan penyederhanaan dari isi Kitab Perjanjian Lama dan Kita Perjanjian Baru.

"Buku ini, al-Quran, adalah penyaringan bagian-bagian yang penting dari kedua kitab perjanjian itu," kata Fred.

Dan yang membuat Fred makin tertarik dengan al-Qur'an, antara lain ayat-ayat yang menceritakan tentang penciptaan dunia oleh Allah swt dan kasih sayangNya pada umat manusia.

Al-Qur'an membuat Fred ingin tahu lebih banyak tentang agama Islam. Ia tercengang saat mengetahui bahwa di AS ada sekitar tujuh sampai sepuluh juta Muslim. Dan ia makin tercengang bahwa Muslim di AS, laki-laki dan perempuan adalah orang-orang bisa seperti dirinya. Bukan orang-orang teroris, suka memukul perempuan dan tidak toleran terhadap cara pandang orang lain, seperti yang ia dengar selama ini.

Pekerjaan Fred membuatnya sering bepergian. Dalam setiap perjalanannya, Fred terus belajar tentang Islam. Ia berkunjung ke masjid-masjid di Columbus, Ohio, berdialog dengan tokoh-tokoh Islam di Sacramento, California, mengunjungi festival-festival Islam di Portland, Oregon atau makan bersama dengan Muslim di Tucson, Arizona.

"Saya menemukan bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang hangat, perhatian dan mau berbagi apapun yang mereka punya dengan saya, tanpa melontarkan pertanyaan-pertanyaan," tukas Fred.

Dua tahun kemudian, Fred merasa Islam-lah agama yang tepat untuknya. Ia pun mulai mencari informasi tentang syarat-syarat menjadi seorang Muslim. Dan syaratnya bagi Fred ternyata cukup mudah.

"Saya cuma diminta untuk mengucapkan bahwa 'Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah," cerita Fred mengenang kembali awal ia menjadi seorang Muslim.

Fred belajar salat dengan beberapa Muslim. Dari sana ia tahu, salat lima waktu sehari merupakan kesempatan bagi setiap Muslim untuk meninggalkan sejenak urusan dunia dan meluangkan waktu untuk berdialog langsung dengan Allah swt.

Fred juga belajar bahwa terorisme ada di mana saja, baik agama atau kelompok politik. Di Irlandia Utara, ada kelompok Kristen Protestan dan Katolik yang mengatasnamakan agama untuk melakukan tindak kekerasan, di AS ada kelompok-kelompok kulit putih yang melakukan tindakan sama atas nama supremasi kulit putih dan ada kelompok Kristen ultrakonservatif, di Afrika Selatan ada kelompok kulit putih yang menerapkan apartheid, dan masih banyak lagi kelompok lainnya.

Terkait perempuan, Fred mengakui bahwa al-Qur'an dengan jelas mengatakan bahwa di mata Allah swt tidak ada perbedaan gender. Jika pun masih ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan di beberapa negara Muslim, itu tidak lebih hanya pengaruh budaya dan bukan ajaran Islam.

Tentang Yesus, Fred mengatakan bahwa banyak non-Muslim yang kagum dengan al-Qur'an karena al-Qur'an berbicara tentang Yesus dan Maryam dengan sangat hormat. Tapi Islam hanya mengakui Yesus sebagai salah seorang Nabi yang diberi mukjizat oleh Allah swt, Islam tidak memandang Yesus sebagai Tuhan.

"Intinya, Islam adalah perluasan dari Yudaisme dan Kristen, Islam menghormati penganut kedua keyakinan itu. Qur'an mempertegas apa yang disinggung dalam kitab perjanjian lama dan baru serta Injil, tapi dilengkapi dengan bukti-bukti yang kuat. Qur'an berisi hal-hal yang konsisten," papar Fred. (ln/whyislam)