MENU

Islamic Widget

Senin, 30 Agustus 2010

Menempuh Perjalanan Membutuhkan Rambu


PDF Cetak E-mail

Hari Ahad kemarin (25 Januari 2009), saya berkunjung ke rumah seorang sahabat, kang Taufan E. Prast namanya. Menurut keterangan, jika berangkat dari Blok M, maka rutenya adalah naik metro mini S 69 jurusan Blok M – Cileduk dan turun di Carrefour. Dari Carrefour naik angkot 02 jurusan Kunciran.

Bila berangkat dari Rambutan, rute yang harus diambil adalah naik PAC 73 jurusan Cileduk dan juga turun di Carrefour. Untuk selanjutnya naik angkot yang sama, angkot 02 jurusan Kunciran.

Itu bila naik angkutan umum. Sedangkan saya mengendarai kendaraan pribadi. Ada perbedaan antara mengendarai angkutan umum dan kendaraan pribadi. Naik angkutan umum dengan rute yang sudah jelas, relatif lebih mudah daripada mengendarai kendaraan pribadi. Soalnya bila naik angkutan umum, kita hanya pesan kepada kondektur, tolong ingatkan halte tempat kita turun. Setelah itu kita dapat bersantai. Dapat bercakap-cakap dengan teman, dapat pula dimanfaatkan untuk istirahat atau digunakan untuk membaca.

Lain halnya jika mengendarai kendaraan pribadi. Daerah Cileduk tidak terlalu asing bagi saya, tapi juga tidak tahu banyak tentang daerah Cileduk. Saya hanya ingat arah ke Cileduk, bila datang dari arah jl. Sudirman dan sampai di perempatan menjelang terminal Blok M, maka kendaraan dibelokkan ke kanan. Kemudian kendaraan akan melewati RS Pertamina. Untuk selanjutnya kendaraan hanya mengikuti jalan, terus lurus dan tidak perlu berbelok-belok.

Begitu yang saya tahu. Bingung nggak, dengan perjalanan yang cukup jauh dan pengetahuan daerah yang dituju hanya pas-pasan???

Segala yang diketahui dijadikan petunjuk. Belok ke kanan setelah sampai diperempatan menjelang terminal Blok M, ini merupakan petunjuk pertama.

Saya berangkat dari rumah pukul 09.30. Melewati Pasar Pondok Gede, daerah Pinang Ranti, Hek, Kramat Jati dan sampai di Cawang. Dari Cawang, motor saya arahkan ke Komdak. Dari sana, saya langsung mengambil jalan Sudirman hingga sampai di pintu IX Senayan. Selanjutnya kendaraan diarahkan ke terminal Blok M hingga sampai di perempatan menjelang terminal.

Kendaraan selanjutnya dibelokkan ke kanan menuju daerah Cileduk. Sampai di rute ini, saya tidak bingung. Petunjuk kedua adalah dari perempatan itu hingga ke perempatan Cileduk kurang lebih berjarak 10 km. Petunjuk ketiga adalah mall Carefour.

Perjalanan motor melintasi rumah sakit Pertamina, memasuki jalan fly over. Beberapa saat setelah melewati fly over, saya terkejut. Lho! Ini ada mall Carefour? Letaknya di kiri jalan. Saya langsung menelpon seorang teman mencari jawaban dari kebingungan ini. “Wi, letak Carefour yang dekat rumah kang Taufan itu di kiri jalan atau kanan jalan?”

“Kanan jalan.”
Mendengar jawaban itu, saya langsung memahami bahwa Carefour yang baru saja dilihat bukan Carefour yang dimaksud petunjuk.

Saya terus memacu sepeda motor. Memperhatikan jalan sambil tetap memperhatikan kanan jalan. Saya khawatir mall Carefour yang menjadi patokan terlewati. Saya teringat kembali petunjuk yang kedua bahwa jarak dari perempatan Blok M hingga perempatan Cileduk kurang lebih 10 km.

Teringat petunjuk kedua ini membuat saya mempercepat laju kendaraan. Berarti mall Carefour masih jauh. Setiap ada mall, mata mencoba mencermati. Apakah Carefour atau bukan. Setiap ada bangunan yang besar, saya coba untuk mengingat-ingat namanya. Saya melintasi sebuah rumah sakit, saya coba rekam nama rumah sakit itu, barangkali nanti dibutuhkan. Saya melintasi sebuah mall lain.

Sudah jauh jalan yang ditempuh, namun mall Carefour tidak kunjung terlihat. Motor terus dipacu, sambil tetap terus memperhatikan sekitar dengan seksama. Pandangan saya menangkap sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa jarak mall Carefour tinggal 3 km lagi. Informasi ini membuat saya menjadi lega. Berarti saya sudah berada di jalan yang benar. Metro mini nomor S 69 juga masih berjalan searah dengan laju motorku. Ini juga semakin membuat saya lega.

3 km sisa telah saya lalui dan mall Carefour pun terlihat. Saya segera menanyakan dimana perempatan Cileduk. Sebab teman berjanji akan menjemput saya di sana. Kerena dia tidak ada, saya segera menelpon ke tempat tujuan.

Saya kembali memperoleh petunjuk-petunjuk yang dapat mengantarkan ke tujuan. Petunjuk berikutnya adalah setelah pasar Bengkong belok ke kiri. Letak pasar Bengkong itu setelah mall Giant.

Singkat cerita, mall Giant pun terlihat dan pertigaan pasar Bengkong pun dapat ditemukan. Untuk mempermudah saya berniat mengikuti angkot 02. Namun ternyata angkot 02 tidak terlihat. Saya terus saja melanjutkan perjalanan. Dari arah berlawanan, nampak angkot 02. Ini berarti saya berada di jalan yang benar. Sampai di sebuah pertigaan, saya kembali bertanya, “Dimana kompleks Pepabri?”

“Terus saja!”
Saya kembali melanjutkan perjalanan. Baru saja beberapa kali putaran roda, nampak angkot 02 melintas. Saya segera menyusul dan mengikutinya. Beberapa meter kemudian, angkot itu berhenti. Saya segera menyalipnya beberapa meter dan menghentikan motor. Sambil menunggu angkot tadi melintas, saya minum seteguk dua teguk air. Tapi ternyata, angkot itu tidak kunjung melintas. Saya segera bertanya kepada seorang ibu yang ada di sana, “Dimanakah kompleks Pepabri?”

“Itu!” jawabnya
Ibu itu menunjuk ke sebuah belokan yang jaraknya kurang lebih dua meter dari tempat saya bertanya. Akhirnya perjalanan jauh saya menemukan dermaganya juga. Perjalanan yang cukup jauh. Kalau dihitung dari rumah hingga tujuan jarak yang telah ditempuh kurang lebih mencapai 40 km, sekali jalan.

Perjalanan dalam hidup ini lebih dari 40 km. Rambu-rambu yang mengantarkan kita ke tujuan tentulah banyak. Memperhatikan rambu-rambu merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Bila ingin sampai di tujuan, mengikuti pesan-pesan yang terdapat di rambu tidak bisa diabaikan. Rambu mengajarkan bahwa Rasulullah berpuasa dan juga berbuka, shalat malam dan juga tidur. Tindakan melakukan puasa terus menerus dan tidak berbuka, sama saja dengan mengabaikan rambu.

Kita terkadang bingung, kemanakah kaki harus melangkah. Apakah kaki yang sedang menempuh jalan ini akan mengantarkan sampai ke tujuan atau tidak? Cobalah bertanya kepada orang yang tahu! Jangan dibiarkan pikiran ?mengambil keputusannya sendiri tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan yang jelas. Bila akal tidak dituntun oleh rambu, tentu perjalanan tidak akan berujung pada tujuan yang sebenarnya.

Mengamati kondisi perjalanan juga merupakan hal yang penting. Masihkah kita berada di jalan yang benar? Adakah rambu selanjutnya yang semakin mendekatkan kita pada tujuan? Bila kita tidak menemukan rambu-rambu lain yang semakin mendekatkan kita pada tujuan, maka waspadalah! Jangan-jangan kita sudah berada di luar jalur alias bukan di jalan yang benar. (arnab)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar